Tampilkan postingan dengan label lagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagi. Tampilkan semua postingan

Bus Sumber Kencono Dibakar Warga Lagi

Kamis, 17 November 2016

Peristiwa kecelakaan maut antara Bus Sumber Kencono yang telah berganti nama menjadi Sugeng Rayahu ini terjadi di Desa Perak, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim), Kamis (26/12/2013) malam.

Bus PO Sugeng Rahayu atau yang lebih dikenal dengan nama Bus Sumber Kencono dibakar warga di Jalan Raya Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim), Kamis (26/12/2013) malam.

Penyebabnya, bus yang dikemudikan Suyono (33), warga Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) ini terlibat aksi kebut-kebutan dengan Bus Mira dari arah Surabaya hingga akhirnya menabrak tiga orang pengendara motor.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun di lapangan, bus maut itu menabrak tiga orang pengendara motor yang tak lain adalah satu keluarga.

Ketiganya adalah Khusnul Khotimah (48), dan dua anaknya yang bernama Wahyudi (16); dan Santoso (5), warga Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Jatim.



Sejumlah warga menuturkan, saat itu, Bus Sumber Kencono yang dikemudikan Suyono (33), warga Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) melaju kencang dari arah Surabaya menuju Yogyakarta.

Saat melintas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), bus ini berusaha mendahului kendaraan lain di depannya, Bus Mira, dengan belok ke kanan dan menyebrangi marka jalan. Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan ada tiga korban yang diketahui adalah satu keluarga sedang mengendarai motor berboncengan.

Meski melihat di depannya ada pengendara motor, bus ini tetap memaksa menyalib dan menabrak ketiga korban. Seketika saja, Khusnul Khotimah (48), warga Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo tewas dengan kondisi mengenaskan. Sementara dua anaknya yang kritis, Wahyudi (16) dan Santoso, meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang.

Sesaat pasca kejadian, warga di lokasi yang emosi berusaha merusak bus dengan mendorongnya sampai ke Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak atau sekira setengah kilometer dari lokasi kecelakaan.

"Di Desa Pagerwojo inilah warga yang kadung kesal berusaha menggulingkan bus di tengah jalan. Namun usaha ini gagal. Karena merasa tak puas, warga pun kemudian akhirnya menyiramkan bensin ke atas bus dan membakarnya beramai-ramai," ungkap seorang warga, Slamet, di lokasi kejadian.

Sementara itu, Kapolres Jombang, AKBP Tribisono, yang berada di lokasi dan turut serta menenangkan warga belum bersedia dikonfirmasi terkait masalah ini. Namun polisi memastikan bahwa Suyono, sopir bus, telah diamankan untuk diproses dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

sumber sindonews.com
Read More..

Ke Depan Intelijen Australia Janji tak Menyadap Lagi

Kamis, 22 September 2016

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen (Purn) Marciano Norman menyatakan pihaknya telah bertemu dengan pihak intelijen Australia.

Pertemuan itu untuk mempertanyakan penyadapan yang dilakukan badan intelijen negara itu terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah petinggi pemerintah Indonesia lainnya.


Dari pembicaraan itu, kata Marciano, intelijen Australia berjanji tidak akan terjadi lagi hal serupa.

"BIN sudah berkomunikasi langsung dengan intelijen Australia dan dalam komunikasi kami mereka menyatakan bahwa sekarang dan ke depan itu yang penting tidak ada lagi. Itu bahasa mereka yah, mereka meyakinkan tidak ada lagi penyadapan," kata Marciano di kompleks kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu, (20/11).

Menurut Marciano, penyadapan yang dilakukan Australia itu terjadi dari tahun 2007 hingga tahun 2009. Indonesia, kata dia, sudah melayangkan protes keras dan meminta komitmen pihak intelijen Australia untuk tidak mengulangi hal itu.

Marciano mengungkapkan Australia memang tidak mengakui secara jelas penyadapan itu. Namun, intelijen Indonesia sudah mendapat informasi adanya pelanggaran itu. Ia tidak merinci informasi apa saja yang berhasil disadap Australia.

"Penyadapan ini kan memang yang terbuka. Yang terbuka adalah 2007 dan 2009. Saya rasa pihak manapun tentunya, dia tidak akan mendeclare itu sudah dikerjakan tetapi dari beberapa informasi yang kita terima, bahwa ada data-data yang memang terjadi pelanggaraan pada kurun waktu itu," kata Marciano.

Australia, sambungnya, juga harus paham bahwa masyarakat Indonesia seluruhnya keberatan dengan aksi penyadapan itu. Ini, tegasnya, mengganggu wibawa Indonesia.

"Keberatan dari seluruh WNI itu harus dipahami oleh mereka. Sehingga apa yang disampaikan pada saya untuk ke depan, dari sekarang ke depan itu tidak akan ada terjadi lagi," tandas Marciano.

sumber
jpnn.com
Read More..